Kemtan Targetkan Cetak 65.000 Ha Sawah Baru

Kemtan Targetkan Cetak 65.000 Ha Sawah Baru

Kementerian Pertanian (Kemtan) pada 2013 menargetkan pencetakan sawah baru seluas 65.000 hektare (ha) secara nasional sebagai upaya peningkatan produksi padi.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, selama 2010-2012 Kemtan secara nasional telah melakukan perluasan sawah baru seluas 173.975 ha yang diperkirakan memberikan kontribusi produksi padi sebesar satu juta ton gabah kering giling (GKG).

“Tantangan yang kita hadapi dalam mewujudkan swasembada dan swasembada berkelanjutan tidaklah mudah. Saat ini kita dihadapkan pada terjadinya kompetisi yang santa tinggi dalam pemanfaatan lahan sawah,” katanya di Jakarta, Senin (8/4).

Mentan menyatakan, saat ini alih fungsi lahan sawah ke lahan non-sawah baik untuk perumahan, pabrik, pusat perekonomian, jalan dan lainnya sudah mencapai 75.000 hingga 100.000 ha per tahun.

Karena itu, menurutnya, kegiatan perluasan sawah baru tidak hanya berhenti sampai penambahan luas baku sawah, namun bermuara pada peningkatan produksi pangan yang intensif dan berkelanjutan.

Sebelumnya pada Sabtu (6/4) Suswono melakukan panen raya pada lahan cetak sawah baru di Desa Muer Kecamatan Plampang Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Pada kesempatan itu Suswono menyatakan, Kemtan pada 2013 juga akan melakukan pengembangan jaringan irigasi sekitar 500.000 ha dan optimalisasi lahan 250.000 ha sebagai upaya peningkatan produksi padi nasional.

“Kegiatan tersebut untuk meningkatkan produktivitas padi dengan sasaran produksi padi nasional 2013 sebesar 72,06 juta ton GKG,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, pada tahun ini pemerintah juga menyalurkan pupuk berimbang dan pengendalian hama terpadu melalui kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) dengan target 4,625 juta ha.

Sementara alokasi pupuk bersubsidi pada tahun ini ditargetkan sebanyak 9,25 juta ton untuk jenis urea, ZA, SP36, NPK dan Pupuk Organik.

Dirjen Prasarana dan Prasaran Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, khusus untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, kegiatan cetak sawah baru pada 2013 seluas 5.700 ha yang mana di Kabupaten Sumbawa mencapai 3.300 ha.

Dia mengatakan, selain di NTB, upaya pencetakan sawah baru juga akan dilakukan di sejumlah provinsi yakni NTT, Sulawesi, Maluku, Papua, Papua Barat dan Sumatera Barat.

Sektor pengolahan dan pertanian topang ekonomi Jabar

Sektor pengolahan dan pertanian topang ekonomi Jabar

Sindonews.com – Proyeksi pertumbuhan sektor pengolahan
dan sektor pertanian dipastikan berkontribusi positif terhadap
pertumbuhan ekonomi Jawa Barat (Jabar) pada triwulan II/2013.

Bank
Indonesia (BI) memperkirakan, perekonomian Jabar pada triwulan II/2013
akan lebih baik dari triwulan I/2013 yang mencapai 5,6-6,1 persen.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2013 diperkirakan akan ditopang
oleh sektor pengolahan dan pertanian.

“Permintaan dari
eksternal dan pangsa pasar domestik diperkirakan tumbuh positif dan
menggerakkan sektor pengolahan dan pertanian,” jelas Kepala Kantor
Perwakilan BI Wilayah VI Jabar dan Banten, M Zaeni Aboe Amin, Senin
(8/4/2013).

Menurutnya, salah satu sektor pengolahan yang
diperkirakan akan tumbuh positif adalah tekstil dan produk tekstil (TPT)
yang diperkirakan akan tumbuh sekitar 6 persen pada periode April-Juni
2013. Peningkatan sektor TPT didorong permintaan ekspor. Pangsa pasar
ini diperkirakan akan lebih baik dari periode sebelumnya.

Sementara,
pangsa pasar domestik belum banyak diandalkan. “Industri olahan
elektronik juga diperkirakan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
Jabar pada periode ini. Selain itu, ada komitmen dari Jepang
meningkatkan investasi produksi otomotif di Jawa Barat,” jelas dia.

Dari
sisi pertanian, lanjut Zaeni, kondisi iklim yang terus membaik akan
berdampak terhadap terhadap produktifitas pertanian di Jabar. Selama
ini, produktifitas pertanian di Jabar cenderung melambat akibat kondisi
cuaca yang kurang mendukung. Produktifitas sayur dan buah diharapkan
tumbuh dan mampu memenuhi permintaan pangsa pasar lokal.

Pertumbuhan
sektor pengolahan sejalan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Pada triwulan I/2013, konsumsi rumah tangga di Jabar tumbuh sekitar
4,2-4,7 persen. Walaupun pertumbuhan sektor ini sedikit lebih lambat
dari sektor lainnya yang berkontribusi terhadap angka pertumbuhan
ekonomi Jabar.
Seperti sektor konsumsi pemerintah yang tumbuh 7,5-8
persen, investasi tumbuh 9-9,5 persen, kinerja ekspor tumbuh 4,8-5
persen, dan impor tumbuh 6,5-7 persen.

Dia menyebutkan,
peningkatan konsumsi rumah tangga disebabkan penurunan angka
pengangguran, peningkatan kesejahteraan, stabilitas makro ekonomi, dan
optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian di Jabar.

Permintaan
sektor konsumsi dipastikan akan meningkatkan penjualan sektor ritel.
Sebagaimana diketahui, penjulaan ritel pada triwulan I/2013 cenderung
melambat.

Sukabumi Buka Ratusan Hektare Persawahan Baru

Sukabumi Buka Ratusan Hektare Persawahan Baru

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Kabupaten Sukabumi berupaya mencetak
ratusan hektare areal persawahan baru. Langkah ini untuk menggenjot
produksi padi di daerah selatan Jawa Barat ini.

Data Dinas
Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kabupaten Sukabumi menyebutkan, pada
2012 lalu, jumlah lahan persawahan baru mencapai sebanyak 200 hektare.
Sementara pada 2013 ini ditargetkan sebanyak 100 hektare areal
persawahan baru.

‘’Perluasan areal sawah di Sukabumi sangat
memungkinkan,’’ ujar Wakil Bupati Sukabumi, Akhmad Jajuli saat panen
perdana di areal perluasan sawah baru di Desa Cikareunggesan, Kecamatan
Jampang Kulon, Sabtu (13/4).

Pasalnya, banyak lahan yang
berpotensi untuk dijadikan areal persawahan. Menurut Jajuli, perluasan
sawah ini juga untuk mengimbangi perubahan alih fungsi lahan pertanian
ke bidang lain. Terlebih, ada sejumlah lahan  pertanian yang diubah
fungsinya menjadi lahan perumahan maupun kawasan industri.

Kepala
DPTP Kabupaten Sukabumi Sudrajat menerangkan, kegiatan percetakan sawah
pada tahun 2012 dialokasikan di empat lokasi. Keempat daerah itu yakni
Desa Cikaranggeusan Kecamatan Jampang Kulon dengan luas 40 hektare, Desa
Gunungbatu Kecamatan Ciracap dengan luas 60 hektare, Desa Wangunreja
Kecamatan Nyalindung seluas 60 hektare, dan Desa Sindangraja Kecamatan
Curug Kembar dengan luas 40 hektare.

Agroteknologi Penting untuk Kembangkan Pertanian Agroteknologi Penting untuk Kembangkan Pertanian

Agroteknologi Penting untuk Kembangkan Pertanian Agroteknologi Penting untuk Kembangkan Pertanian

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pertanian melalui
agroteknologi menuju kemandirian pangan dan bukan bergantung pada impor.

“Republik ini pernah dihidupi dari pertanian,” ujar Staf Ahli
Menteri Pertanian RI bidang Teknologi, Iskandar Andi Nuhung, saat
menjadi pembicara pada kuliah umum di Fakultas Pertanian Universitas
Muhammadiyah Jakarta (F-Tan UMJ) dengan tema Prospek Keekonomian
Agribisnis: Suatu Perspektif bagi Generasi Muda di Aula Fakultas
Pertanian UMJ, Jakarta, belum lama ini.

Iskandar Andi
mengungkapkan bahwa sektor pertanian di Indonesia pernah jaya dan hampir
seluruh rakyat Indonesia adalah masyarakat agribisnis. Kejayaan itu
dibuktikan dengan komoditi hasil pertanian yang diekspor hingga senilai 2
juta dollar AS. Sayangnya, kini Indonesia justru harus mengimpor
komoditi tersebut juga senilai 2 juta dollar AS.

“Pertanian kita
pernah jaya, tapi ini jadi dongeng buat generasi muda,” tukasnya. Meski
demikian, Andi melihat ada peluang besar mengembangkan pertanian
melalui agroteknologi. Terlebih, pengembangan itu juga didukung dengan
ketersediaan lahan pertanian yang masih sangat memadai. Dengan potensi
yang ada, bukan tidak mungkin, prospek ekonomi pertanian akan kembali
jaya. Perkembangan pertanian, lanjut Andi, dilakukan melalui dua cara,
yaitu ekspansi atau perluasan dan agroteknologi.

Untuk
mengembangkan pertanian di Indonesia, kedua cara itulah yang mesti
menjadi fokus. Belum lagi, jika dilihat dari kacamata agribisnis,
menurut Andi, pertanian dalam perspektif ini mampu menunjang kehidupan.

“Nilai
tambah hasil pertanian ada di industri, jasa, dan perdagangan. Inilah
perspektif agribisnis yang dimaksudkannya,” ujarnya.

Daya Saing

Nilai
tambah tersebut disebabkan karena agribisnis merupakan sistem
pengelolaan pengembangan pertanian yang mengintegrasikan dan menciptakan
interdepedensi seluruh subsistem dari hulu sampai hilir. Sistem
agribisnis tersebut diwujudkan untuk bisnis yang profi table, berdaya
saing, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Untuk itu, Andi
meyakini jika prospek keekonomian agribisnis di Indonesia akan mampu
menopang kebutuhan pangan nasional. Selain itu, juga mampu mandiri dalam
memenuhi kebutuhan pangan tanpa mengimpor dari luar. Penulis buku best
seller, ‘Sukses Tidak Ada yang Gratis’, ini menolak sebuah teori yang
menyatakan bahwa sektor pertanian sebagai sektor inferior.

“Teori
itu salah,” tegas Andi. Hal senada juga diungkapkan oleh Dekan Fakultas
Pertanian UMJ, Ir Djunaidi, yang berharap prospek keekonomian
agribisnis di Indonesia akan berkembang. Junaidi juga berharap kepada
para mahasiswa Fakultas Pertanian UMJ untuk memperjuangkan masa depan
pertanian Indonesia dengan terus mengembangkan teknologi pertanian
melalui agroteknologi. ion/P-3

Memburu Lahan Pertanian Global | Perkebunan

Memburu Lahan Pertanian Global | Perkebunan

KRISIS pangan sepanjang 2007-2008 telah melonjakkan indikator harga pangan dunia (FAO Food Price Index) dari kisaran angka 130-an ke angka di atas 200-an hingga kini. Bukan hanya masalah harga, ketika krisis itu terjadi negara-negara produsen mengerem ekspornya sehingga membuat panik negara-negara yang bahan pangannya mengandalkan produk impor. Kepanikan inilah yang kemudian memicu perburuan lahan pertanian secara global atau yang disebut land grabs.

Negara-negara seperti Arab Saudi, UAE, Korea Selatan, China dan India adalah beberapa negara yang aktif berburu lahan pertanian di luar negaranya. Arab Saudi dan UAE karena memang tidak memiliki lahan subur yang cukup di negerinya, sehingga berburu di luar negaranya adalah hal yang logis.

Sementara itu India dan China memiliki alasan yang berbeda yaitu lahan-lahan subur yang mereka miliki sangat luas, hanya saja tetap tidak cukup untuk memberi makan bagi penduduk mereka yang kini masing-masing mencapai 1.21 Milyar untuk India dan 1.35 milyar untuk China.

Yang juga mendorong mereka melakukan perburuan lahan global tersebut adalah harga sewa lahan yang luar biasa murah di negara-negara yang menjadi target land grabs tersebut.

Seorang Pangeran di Arab Saudi hanya perlu membayar US$ 125,000 (Rp 1.2 Milyar) per tahun untuk 105,000 hektar lahan pertanian di Sudan Selatan – atau hanya sekitar Rp 11,500 per hektar per tahun. Yang disewa perusahaan India di Ethiopia seluas 311,000 hektar juga tidak jauh berbeda, kisarannya US$ 1.2 sampai US$ 8.0 per hektar per tahun.
Dan ternyata bukan hanya di Afrika yang harga sewa lahan begitu murahnya, Di Amerika Latin seperti Peru – harga sewa lahan yang dilakukan perusahaan Korea Selatan bahkan lebih murah lagi yaitu sekitar US$ 0.80 per hektar per tahun.

Lantas apakah dengan murahnya sewa lahan di beberapa negara tersebut akan mendorong para konglomerat Indonesia untuk ikut meramaikan global land grabs tersebut? Menurut saya tidak perlu.

Pertama di Indonesia masih cukup banyak lahan-lahan yang seharusnya produktif tetapi ditelantarkan oleh para pemilik atau penguasanya. Dua gambar yang saya sajikan pada tulisan ini adalah gambaran puluhan ribu hektar lahan gersang di depan mata kita. Yang satu di bagian selatan Sukabumi, dan yang kedua di bagian utara Subang dan Indramayu. Keduanya bisa ditempah dalam sekitar 4 jam perjalanan darat dari Jakarta.

Selain masalah harga lahan, produksi pertanian juga mencakup potensi lapangan kerja massal yang luar biasa. Harga sewa lahan di Ethiopia, Sudan, Peru dlsb. sangat murah karena pemerintahnya memang mendorong investasi asing untuk masuk di industri pertanian negerinya – sehingga tercipta lapangan kerja yang sangat banyak.

Bersamaan dengan masuknya investor membangun pertanian di tanah yang sebelumnya ditelantarkan tersebut juga memutar ekonomi setempat melalui pembangunan infrastuktur, transportasi, perumahan dlsb. Hal yang kurang lebih sama yang dilakukan oleh para pekebun kita ketika membuka lahan baru di luar Jawa.

Dalam tulisan saya sebelumnya “Golongan Kanan…” (26/03/2013) , saya ungkapkan bahwa saat inipun produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan lebih dari dua kali penduduk bumi. Bahwasanya sekitar 1 milyar orang di dunia masih kelaparan dan index harga pangan dunia melonjak hampir dua kalinya sepanjang lima tahun terakhir – masalah utamanya bukan pada tingkat produksi.

Masalahnya adalah pada tingkat daya beli masyarakat. Oleh karenanya solusi kelaparan dunia bukan hanya masalah memproduksi bahan pangan yang cukup, tetapi tidak kalah pentingnya adalah mengangkat daya beli yang cukup.

Sekarang bayangkan di area yang kini gersang yang saya sajikan dalam dua foto tersebut di atas. Luasan area yang kami berhasil identifikasi pemiliknya saja tidak kurang dari 60,000 hektar di dua lokasi tersebut. Bila digarap secara intensif dengan rata-rata per hektar menyerap dua orang tenaga kerja saja, sudah 120,000 orang tenaga kerja bisa terserap.

Selain penyerapan tenaga kerja, aktifitas ekonomi di daerah tersebut pasti ikut berputar lebih cepat dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti transportasi, perumahan, dan kebutuhan sehari-hari.

Bahwasanya ada puluhan ribu hektar di depan mata kita yang masih ditelantarkan, sementara negara-negara  lain aktif berburu lahan di negeri orang – pasti ada something wrong yang perlu dicarikan pemecahan masalahnya.

Yang pertama adalah sikap masyarakat yang harus berubah dari fokus pada hak (milik), menjadi tanggung jawab (untuk memakmurkan). Ini tugas para ustadz untuk menjelaskan ke masyarakat bahwa lahan-lahan yang mereka miliki adalah amanah, yang semula hak bisa justru menjadi liability bila mereka tidak memakmurkannya. Liability di dunia karena membayari ongkosnya (pajak, penjagaan dlsb), juga liability di akhirat karena menyia-nyiakan amanah yang mestinya berguna untuk memakmurkan dirinya sendiri dan orang lain.

Yang kedua adalah dukungan pemerintah dari pusat sampai pemerintah setempat, bagaimana mereka bisa memfasilitasi agar masyarakat diberi insentif dan kemudahan untuk memakmurkan lahannya. Bahkan kalau masyarakat setempat tidak mampu, pemerintahnya harus membantu mendatangkan yang mampu baik dari sisi teknis maupun finansial.

Pemerintah setempat punya kepentingan dunia dan akhirat untuk melakukan hal ini. Di dunia merupakan tanggung jawabnya untuk memutar ekonomi di daerah yang dipimpinnya, di akhirat tanggung jawabnya pula atas kepemimpinannya untuk bisa memakmurkan rakyatnya atau sebaliknya – malah menyusahkan rakyatnya.

Yang ketiga adalah tugas masyarakat umum seperti kita-kita, kita bisa melihatnya sebagai tanggung jawab maupun sebagai peluang. Sebagai tanggung jawab adalah karena kita wajib berbuat bila melihat kemungkaran. Mentelantarkan lahan adalah bentuk kemungkaran masa kini – ketika banyak rakyat kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, ketika pemuda-pemudi kita meninggalkan keluarganya untuk bekerja di negeri yang jauh dan penuh resiko – kadang kehormatan dan bahkan nyawa-pun dikorbankan.

Sebagai peluang bagi kita bisa bersifat peluang dunia maupun akhirat. Di dunia menjadi lahan bagi kita untuk beramal, memutar ekonomi, menghidupi keluarga kini dan nanti. Sebagai peluang di akhirat karena kita sambut penugasanNya – bahwa kita diciptakan dari bumi (tanah) untuk memakmurkannya (QS Hud : 61).

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“…..Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya [726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” [QS: Huud [11]: 61]

Lantas apa konkritnya yang bisa kita perbuat? Tidak mudah memang – sejak saya melontarkan ide Kepemilikan Kebuh Produktif (KKP) sekitar delapan bulan lalu – tidak terhitung jumlahnya pihak yang saya ajak bicara, tidak terhitung pula yang mendukungnya.

Namun berbagai kendala masih kita hadapi, meskipun tentu saja kita tidak akan menyerah. Lahan-lahan luas yang sudah mateng negosiasinya adalah lahan-lahan yang berstatus HGU (Hak Guna Usaha) sehingga tidak mungkin di KKP-kan – karena di KKP konsepnya adalah kepemilikan (SHM).

Bagi yang tertarik lahan HGU dengan konsep Syirkah Private Equity (SPE), bahkan kini Anda sudah bisa mendaftarkan minat partisipasi Anda sesuai dengan pengumuman kami melalui tulisan tanggal 02/04/13 dengan judul “Pasar Modal Tanpa Batas…”. Bagi yang ingin menunggu KKP-pun tidak masalah, insyaAllah kami akan up-date lagi perkembangannya dalam waktu dekat.

Sebelum tangan-tangan negeri kaya yang minim lahan pertanian meng-grabs lahan-lahan pertanian kita, sebelum negeri-negeri dengan bermilyar penduduk meng-grabs lahan pertanian kita untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka yang sangat besar – mengapa tidak kita-kita sendiri meng-grabs lahan-lahan yang kini masih ditelantarkan oleh pemiliknya? Meng-grabs dengan cara yang hikmah untuk jaman ini – membeli dengan harga yang pantas.

Meng-grabs bukan untuk sekedar menguasai, tetapi lebih penting dari itu adalah untuk memakmurkan – untuk memenuhi panggilan raison d’être, alasan keberadaan kita di muka bumi – sebagi khalifah untuk memakmurkan bumiNya. Amin.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com